Oleh L. M. Abd. Bakir
Penulis merupakan Sekjen Pemuda Darul Muhajirin
Mataram – Membaca sebaris tanya dari seorang kawan di media “Sudah setahun lebih, di mana mendunia itu?”, rasanya seperti ditepuk pundak saat sedang asyik menyeruput kopi pagi. Pertanyaan itu sama sekali tidak salah, malah teramat wajar. Siapa sih yang tidak gemas melihat kalender berganti lembar demi lembar, sementara bayangan kampung halaman jadi buah bibir di seantero dunia belum juga terpampang utuh di depan mata? Rindu melihat daerah sendiri lekas maju itu fitrah, Bung. Namanya juga cinta.
Tapi mari kita letakkan cangkir sejenak. Kita bayangkan diri kita sebagai orang yang baru saja diserahi kunci sebuah rumah peninggalan. Apakah di hari pertama kita langsung sibuk mengecat atap dengan warna emas biar silau dipandang tetangga sebelah? Tentu tidak. Kita pasti menyapu pekarangan dulu, menambal genteng yang bocor, dan yang paling bikin pusing membereskan tunggakan masa lalu biar listrik tidak diputus.
Nah, kira-kira begitu potret kerja Duet Iqbal-Dinda setahun ini. Alih-alih buru-buru meniup terompet ke luar negeri, mereka memilih duduk berpeluh membereskan kas daerah. Hasilnya? Lihat saja LKPJ akhir Maret 2026. Di situ terbaca jelas: NTB melangkah ke tahun ini dengan dompet yang sehat. Tumpukan kewajiban kontraktual lebih dari Rp280 miliar yang jadi oleh-oleh dari periode lalu sudah lunas. Kita masuk 2026 tanpa beban utang yang mencekik. Rumahnya sudah mulai indah. Rumah semegah apa pun tidak akan asri kalau sampah masih berserakan dan numpuk dimana-mana.
Setelah rumah indah dan asri, mari ngomong soal perut. Apalah arti kata “mendunia” kalau piring di dapur saudara kita sendiri masih kosong? Kepemimpinan setahun ke belakang ini memang sunyi. Tapi hasilnya mulai merembes sampai ke hulu. BPS sudah merilis angka per September 2025. Ada satu hal yang bikin saya terdiam sejenak: kemiskinan di desa kita sekarang lebih rendah daripada di kota. 11,02 persen di perdesaan, 11,70 persen di perkotaan. Ini keanehan yang langka. Biasanya kan desa selalu jadi kantong paling dalam.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya ada di sawah. Sepanjang 2025, produksi padi NTB menembus 1,6 juta ton gabah kering giling melonjak lumayan dari 1,4 juta ton tahun sebelumnya. Luas panen juga naik dari 281 ribu hektare jadi hampir 323 ribu hektare. Program Desa Berdaya yang diluncurkan Desember 2025, menyasar 106 desa miskin ekstrem, tampaknya mulai menunjukkan taring. Ketimpangan pengeluaran warga yang biasa diukur dengan Gini Ratio ikut menyusut ke 0,364. Lebih baik dari banyak provinsi besar di Jawa. Ketahanan pangan menguat, dan saudara-saudara kita di desa mulai bisa menarik napas agak panjang. Bukankah memastikan perut rakyat kenyang adalah syarat mutlak sebelum bermimpi menjamu tamu dari benua lain?
Meski sibuk mengurus fondasi dapur, bukan berarti Iqbal-Dinda lupa membuka jendela depan. Pelan tapi pasti, rute menuju “mendunia” itu sedang diaspal. Lihat saja pergerakan di pesisir. Sepanjang tahun kemarin, Pelabuhan Lembar mencatat lonjakan kedatangan penumpang luar negeri hingga 32 persen pada Agustus 2025. Pelindo mencatat 49 kunjungan kapal pesiar. Laut kita mulai ramai lagi, roda pariwisata kembali berputar. Tanpa perlu banyak pidato yang memekakkan telinga.
Mendukung langkah Gubernur Iqbal dan Wagub Dinda hari ini bukan berarti menutup mata rapat-rapat. Ini bentuk dukungan yang lahir dari kesadaran akan sebuah proses: bahwa untuk mendirikan menara megah yang kelak menyundul langit, tahun pertama selalu dihabiskan untuk menggali tanah dalam-dalam. Tentu saja kerjanya belepotan lumpur dan wujud bangunannya belum kelihatan mentereng dari pinggir jalan.
Maka, kepada kawan yang melempar tanya di mana letak “mendunia” itu, mari kita duduk berdampingan di beranda. Kepedulian Anda adalah bahan bakar, dan kritik Anda adalah pengingat yang merawat kewarasan. Kita tuangkan kopi secangkir lagi, sembari sama-sama mengawal tiang pancang yang sudah ditanam kokoh ini. Perjalanan masih panjang, dan benih itu ternyata sudah bertunas di tanah yang tepat. Kita hanya perlu sedikit lagi kesabaran untuk melihatnya mekar di taman dunia.












