Dunia bisnis di era digital telah mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam hal cara membangun kredibilitas. Dahulu, reputasi sebuah perusahaan dibangun melalui kualitas produk dan layanan pelanggan yang konsisten selama bertahun-tahun. Kini, kecepatan informasi di media sosial sering kali membuat para pelaku usaha merasa perlu untuk menunjukkan keberhasilan mereka secara instan guna menarik perhatian calon mitra atau pelanggan. Fenomena ini kemudian memunculkan tren pamer kemewahan atau yang lebih dikenal dengan istilah flexing dalam bisnis sebagai salah satu strategi pemasaran maupun personal branding.
Sebenarnya, flexing dalam bisnis merujuk pada sebuah tindakan memamerkan kekayaan, pencapaian, atau aset secara mencolok untuk menciptakan citra sukses di mata publik. Secara psikologis, tindakan ini sering kali ditujukan untuk membangun otoritas dan kepercayaan secara cepat. Namun, garis antara berbagi inspirasi dan pamer yang berlebihan sangatlah tipis, sehingga penting bagi kita untuk memahami batasan-batasannya agar tidak terjebak dalam citra yang semu.
1. Memamerkan Saldo Rekening Perusahaan
Salah satu fenomena yang sering kita jumpai adalah kebiasaan mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan saldo rekening bank perusahaan. Tindakan ini biasanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa bisnis tersebut memiliki likuiditas yang tinggi dan sangat menguntungkan. Padahal, bagi para pelaku usaha yang sudah matang, jumlah saldo di rekening bukanlah indikator tunggal kesehatan finansial, karena arus kas yang sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar angka di layar ponsel.
2. Foto Tumpukan Uang Tunai
Visualisasi kesuksesan sering kali digambarkan secara harfiah melalui foto tumpukan uang tunai di atas meja atau dalam tas. Gaya komunikasi seperti ini mungkin terasa sangat provokatif dan menarik perhatian dalam waktu singkat. Namun, dalam dunia profesional, tindakan ini sering dianggap kurang etis dan justru menurunkan kelas bisnis tersebut karena terkesan terlalu berfokus pada materi fisik daripada nilai tambah yang diberikan kepada pelanggan.
3. Pamer Mobil Mewah Operasional
Penggunaan kendaraan mewah sebagai aset operasional sering kali dijadikan konten utama untuk menunjukkan level kesuksesan sebuah unit usaha. Memang benar bahwa kenyamanan dalam bekerja itu penting, namun ketika fokus utama komunikasi bisnis bergeser menjadi ajang pamer koleksi kendaraan, tujuan utama dari bisnis itu sendiri terkadang menjadi kabur. Pembaca yang kritis biasanya akan lebih tertarik pada bagaimana bisnis tersebut memecahkan masalah mereka daripada merek mobil yang dikendarai pemiliknya.
4. Menunjukkan Sertifikat Penghargaan Palsu
Integritas adalah mata uang tertinggi dalam dunia usaha, namun godaan untuk terlihat berprestasi terkadang memicu penggunaan sertifikat penghargaan yang tidak valid atau palsu. Tindakan flexing dalam bisnis semacam ini sangat berisiko karena dapat menghancurkan reputasi dalam sekejap jika publik mengetahui kebenarannya. Membangun prestasi secara organik mungkin membutuhkan waktu lebih lama, tetapi hasilnya akan jauh lebih kokoh dan membanggakan bagi kelangsungan usaha jangka panjang.
5. Klaim Omzet Miliaran Berlebihan
Menyebutkan angka pendapatan atau omzet yang mencapai miliaran rupiah tanpa data pendukung yang jelas merupakan bentuk flexing yang cukup umum. Meskipun angka tersebut terdengar sangat menggiurkan bagi orang awam, para praktisi bisnis paham bahwa omzet besar tidak selalu berarti keuntungan bersih yang besar pula. Mengumbar angka tanpa konteks beban operasional dan margin laba sering kali hanyalah upaya untuk membangun ilusi kesuksesan yang megah di permukaan saja.
6. Foto dengan Tokoh Publik Ternama
Mengunggah foto bersama pejabat, artis, atau tokoh publik ternama sering digunakan sebagai cara untuk mendompleng popularitas dan otoritas. Hal ini bisa menjadi bumerang jika kedekatan tersebut hanya sebatas momen foto bersama di sebuah acara tanpa adanya hubungan kerja sama yang nyata. Kredibilitas yang dibangun di atas bayang-bayang orang lain biasanya tidak akan bertahan lama tanpa didukung oleh kualitas diri yang mumpuni.
7. Pamer Gaya Hidup Jetset
Banyak pemilik usaha yang memilih untuk membagikan detail gaya hidup mewah mereka sebagai bukti keberhasilan bisnis yang mereka jalankan. Mulai dari makan di restoran eksklusif hingga penggunaan barang-barang mewah setiap harinya. Walaupun hal ini bisa menjadi motivasi bagi sebagian orang, terlalu sering menonjolkan gaya hidup jetset dapat menciptakan jarak antara pemilik bisnis dengan target audiensnya yang mungkin lebih menghargai kesederhanaan dan nilai guna produk.
8. Mengumbar Aset Properti Kantor
Kepemilikan gedung kantor di lokasi strategis merupakan pencapaian yang luar biasa, namun mengumbarnya secara berlebihan di media sosial bisa menjadi bentuk flexing dalam bisnis yang melelahkan bagi pengikut. Dokumentasi aset properti sebaiknya dilakukan dengan narasi yang menekankan pada kenyamanan tim dalam bekerja atau peningkatan kapasitas layanan, bukan sekadar untuk menunjukkan kekayaan perusahaan yang bersifat fisik semata.
9. Testimoni Pelanggan Hasil Rekayasa
Kepercayaan pelanggan adalah fondasi utama setiap usaha, namun terkadang ada oknum yang melakukan manipulasi melalui testimoni buatan. Menampilkan ulasan positif yang sengaja direkayasa agar terlihat sangat puas adalah tindakan yang sangat tidak disarankan. Kejujuran dalam menampilkan ulasan, baik itu berupa pujian maupun kritik yang membangun, justru akan membuat sebuah merek terlihat lebih manusiawi dan dapat dipercaya oleh calon konsumen.
10. Klaim Jumlah Pengikut Media Sosial
Di era digital, angka pengikut sering dianggap sebagai indikator kesuksesan sebuah bisnis. Melakukan flexing terhadap jutaan pengikut yang mungkin sebagian besarnya adalah akun palsu atau hasil pembelian merupakan strategi yang kurang bijak. Bisnis yang sehat biasanya lebih mengutamakan tingkat keterlibatan dan interaksi yang berkualitas dengan pelanggan nyata daripada sekadar mengejar angka di profil media sosial mereka.
11. Pamer Liburan Mewah Hasil Bisnis
Memberikan apresiasi pada diri sendiri setelah bekerja keras adalah hal yang sangat manusiawi, namun menjadikannya sebagai konten jualan utama bisa memberikan kesan yang keliru. Sering kali, konten liburan mewah yang diklaim sebagai hasil dari keuntungan bisnis digunakan untuk menarik orang bergabung dalam sistem tertentu. Pendekatan ini sebaiknya dilakukan dengan bijak agar tidak terkesan mengeksploitasi impian orang lain demi kepentingan pribadi.
12. Menunjukkan Jam Tangan Bermerek Mahal
Aksesori seperti jam tangan mewah sering kali dianggap sebagai simbol status yang menunjukkan seseorang telah sampai pada puncak kesuksesan tertentu. Memamerkan jam tangan bermerek mahal di sela-sela presentasi bisnis atau konten edukasi adalah contoh flexing dalam bisnis yang sangat halus namun tetap terasa tujuannya. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat elegan, namun bagi yang lain, hal tersebut bisa dianggap sebagai gangguan dari substansi pembicaraan yang sedang disampaikan.
13. Klaim Kerja Sama Merek Internasional
Menggunakan logo-logo perusahaan besar berskala internasional dalam materi promosi tanpa adanya ikatan kontrak yang sah adalah tindakan yang berisiko secara hukum dan etika. Klaim kerja sama yang bersifat fiktif ini bertujuan untuk memberikan kesan bahwa bisnis tersebut sudah memiliki jangkauan global. Membangun kemitraan yang nyata, meskipun dimulai dari skala lokal yang kecil, jauh lebih berharga daripada memamerkan hubungan kerja sama yang tidak pernah ada.
14. Dokumentasi Seminar Berbayar Fiktif
Dalam industri edukasi bisnis, memamerkan foto kegiatan seminar dengan audiens yang penuh sering dilakukan untuk menarik peserta baru. Namun, menjadi masalah jika foto tersebut diambil dari acara lain atau jumlah pesertanya sengaja direkayasa melalui teknik penyuntingan. Kejujuran dalam menunjukkan skala acara akan membantu membangun komunitas yang loyal karena mereka merasa tidak dibohongi oleh citra palsu yang ditampilkan.
15. Memamerkan Bukti Transfer Besar
Mirip dengan pamer saldo rekening, mengunggah bukti transfer masuk dari pelanggan dengan nilai yang fantastis sering dijadikan alat untuk memvalidasi bahwa produk mereka laku keras. Tindakan ini bisa memancing rasa penasaran, namun di sisi lain juga bisa menimbulkan keraguan terkait privasi pelanggan. Mengomunikasikan keberhasilan penjualan bisa dilakukan dengan cara-cara yang lebih elegan, seperti berbagi cerita sukses pelanggan yang telah terbantu oleh produk tersebut.
16. Pamer Kantor di Gedung Elit
Memiliki alamat kantor di distrik bisnis yang bergengsi memang memberikan kebanggaan tersendiri. Namun, terus-menerus menonjolkan kemewahan lobi gedung atau pemandangan dari lantai tinggi tanpa diimbangi dengan kualitas layanan hanya akan membuat bisnis tersebut terlihat seperti cangkang yang indah namun kosong. Lokasi kantor hanyalah pendukung, sementara inti dari kesuksesan tetap terletak pada bagaimana solusi yang ditawarkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Pada akhirnya, kesuksesan sebuah usaha tidak melulu harus dipamerkan melalui berbagai tindakan flexing dalam bisnis yang mencolok. Keberhasilan yang sejati biasanya terpancar secara alami melalui integritas, kualitas produk yang konsisten, dan testimoni jujur dari pelanggan yang merasa terbantu. Membangun citra bisnis yang sehat dan autentik mungkin memerlukan waktu dan dedikasi yang lebih besar, namun kepercayaan yang diperoleh dari cara-cara yang jujur akan menjadi aset paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan kemewahan apa pun.












