Doa Bersama dan Santap Dulang, Cara Warga Abu Dabi Lombok Tengah Sambut Ramadan

Anak-anak dan orang tua mengikuti tradisi roah, mempererat silaturahmi menyambut bulan suci Ramadan di Lombok Tengah.

Praya – Suara beduk menggema hingga ke sudut-sudut rumah warga Kampung Abu Dabi, Desa Darek, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Rabu (18/2/2024) sore menjelang magrib. Dentuman itu menjadi penanda bagi para jamaah laki-laki untuk segera menuju masjid, melaksanakan tradisi roah dalam menyambut Ramadan 1447 Hijriah.

Di dusun tersebut, roah bukan sekadar agenda tahunan, melainkan tradisi turun-temurun yang selalu digelar setiap akhir bulan Sya’ban. Suasananya khidmat namun penuh sukacita, menandai datangnya bulan suci yang dinanti umat Muslim.

Anak-anak terlihat ceria mengenakan busana muslim sambil mengikuti orang tua mereka ke masjid. Di rumah-rumah warga, para perempuan sibuk menyiapkan hidangan yang ditata dalam dulang—wadah tradisional khas Lombok—untuk diantarkan ke masjid.

Baca Juga:  Sambut Hari Bhayangkara Kapolres Lombok Utara Pimpin Upacara Tabur Bunga

Beragam sajian tersusun rapi, mulai dari opor ayam, opor telur, pecel, pelecing, hingga aneka masakan rumahan lainnya. Dulang-dulang tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus wujud rasa syukur.

Ramli (55), tokoh masyarakat setempat, mengatakan tradisi roah telah menjadi bagian penting dalam menyambut 1 Ramadan.

“Roah ini memang tradisi setiap tahun, untuk menyambut tanggal 1 bulan Ramadhan, atas rasa bersyukur kita dapat bertemu dengan bulan suci ramadan lagi,” kata Ramli.

Ia menjelaskan, rangkaian roah diawali dengan para perempuan yang mengantarkan dulang ke masjid. Setelah itu, kaum laki-laki berkumpul untuk melaksanakan doa bersama yang dipimpin oleh kiai atau tuan guru.

“Pelaksanaan roah dimulai dengan para perempuan mengantarkan dulang berisi hidangan ke masjid. Kemudian, kaum laki-laki berkumpul di masjid untuk melakukan doa bersama yang dipimpin oleh seorang Kiai atau Tuan Guru,” kata Ramli.

Baca Juga:  Buang Barang Bukti ke Luar Jendela, Pengedar Sabu di Plampang Tak Berkutik Saat Diringkus Polisi

Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT sekaligus memohon kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa.

“Setelah doa bersama selesai, tibalah saatnya untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan dalam dulang. Momen ini menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan bagi masyarakat Dusun Abu Dabi,” lanjutnya.

Menariknya, roah tidak hanya dilaksanakan menjelang awal Ramadan. Tradisi ini juga digelar pada pertengahan bulan puasa dan di penghujung Ramadan.

“Raoh ini juga dilakukan di pertengahan bulan Ramadan, yang kita sebut juga roah balik ayat. Jadi balik ayat ini maksudnya mengganti ayat bacaan surah Quraan saat pelaksanaan shalat tarawaih,” kata Ramli.

Sementara di akhir Ramadan, roah kembali menjadi momentum syukur karena telah diberi kesehatan dan kesempatan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Baca Juga:  Kapolres Sumbawa Bersama Gabungan Staf Bagikan Takjil Kepada Masyarakat

“Semnentara roah di akhir bulan Ramadan juga menjadi bentuk rasa syukur, kita sudah diberikan kesempatan kesehatan melaksanakan ibadah puasa satu bulan full,” kata Ramli.

Bagi warga Dusun Abu Dabi, dentuman beduk dan dulang yang terhidang bukan sekadar tradisi, melainkan cara menjaga silaturahmi dan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih serta penuh harapan.

Penulis: SULPIANI