Apa Itu Agnostisisme? Pahami Pengertian dan Perbedaannya dengan Ateisme

Bukan Karena Malas Belajar Agama, Ini Alasan Logis di Balik Pemikiran Seorang Agnostik
Bukan Karena Malas Belajar Agama, Ini Alasan Logis di Balik Pemikiran Seorang Agnostik

Dunia pemikiran manusia adalah sebuah bentang alam yang luas dan penuh warna. Di dalamnya, kita sering menemukan berbagai spektrum keyakinan yang terkadang sulit untuk dikotak-kotakkan secara sederhana. Salah satu posisi intelektual yang sering muncul dalam diskusi mengenai ketuhanan dan eksistensi adalah agnostisisme. Meski istilah ini sudah cukup lama terdengar, kenyataannya masih banyak terjadi simpang siur informasi yang membuat pemahaman masyarakat menjadi kurang akurat mengenai apa yang sebenarnya diyakini atau dipikirkan oleh mereka yang memilih jalan ini.

Memahami agnostisisme bukan berarti kita harus menyetujuinya, melainkan upaya untuk membangun jembatan empati dan literasi dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Sering kali, label yang diberikan kepada seseorang justru menutup pintu dialog sebelum kita benar-benar memahami dasar pemikiran mereka. Dengan melihat lebih dalam, kita bisa menemukan bahwa pandangan ini sebenarnya menyimpan kedalaman refleksi yang cukup kompleks tentang batasan pengetahuan manusia.

Memahami Esensi dan Pengertian Agnostisisme

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita menyelaraskan pemahaman mengenai apa itu agnostisisme. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu “a” yang berarti tidak dan “gnosis” yang berarti pengetahuan. Jadi, secara mendasar, agnostisisme adalah sebuah posisi epistemologis yang berpandangan bahwa keberadaan Tuhan, dewa-dewi, atau hal-hal metafisika lainnya adalah sesuatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui oleh akal budi manusia saat ini.

Seorang agnostik biasanya menitikberatkan pada bukti empiris dan batasan logika. Mereka memandang bahwa pertanyaan tentang penciptaan alam semesta adalah sebuah misteri besar yang mungkin melampaui kapasitas kognitif manusia. Ini bukanlah sebuah pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan, melainkan sebuah pengakuan jujur bahwa mereka tidak memiliki data atau pengetahuan yang cukup untuk memberikan jawaban mutlak. Pemahaman ini menjadi pondasi penting sebelum kita membedah berbagai miskonsepsi yang sering melekat pada mereka.

1. Dianggap sama dengan ateisme

Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi di tengah masyarakat adalah mencampuradukkan antara agnostisisme dan ateisme. Padahal, jika kita telaah lebih teliti, keduanya memiliki titik pijak yang sangat berbeda. Ateisme berkaitan dengan ketidakyakinan atau penolakan terhadap keberadaan Tuhan, sementara agnostisisme lebih berfokus pada ketidakmampuan manusia untuk mengetahui kebenaran tersebut secara pasti.

Baca Juga:  Kolaborasi Babinsa dan Warga Wujudkan Ketertiban Acara Adat

Ibarat sebuah persidangan, seorang ateis mungkin akan berargumen bahwa terdakwa tidak bersalah karena kurangnya bukti, sedangkan seorang agnostik lebih memilih posisi untuk mengatakan bahwa pengadilan tidak memiliki cukup informasi untuk mengambil keputusan apa pun. Perbedaan halus ini sering kali terabaikan dalam percakapan sehari-hari, sehingga banyak orang menyamaratakan keduanya sebagai satu kelompok yang sama, padahal motivasi intelektual di baliknya sangatlah kontras.

2. Dinilai sebagai bentuk keraguan sesaat

Banyak orang beranggapan bahwa menjadi seorang agnostik hanyalah sebuah fase transisi atau keraguan sesaat dalam pencarian spiritual. Ada persepsi bahwa seseorang sedang “bingung” dan akan segera memilih salah satu sisi dalam waktu dekat. Namun, bagi banyak orang, agnostisisme adalah sebuah posisi filosofis yang matang dan bersifat permanen. Ini bukan tentang ketidaksanggupan untuk memilih, melainkan keputusan sadar untuk tetap rendah hati di hadapan misteri semesta.

Pandangan ini melihat bahwa ketidakpastian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau segera diselesaikan, melainkan sebuah realitas yang harus diterima. Mereka memandang bahwa mengklaim mengetahui sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara objektif justru merupakan sebuah tindakan yang kurang jujur secara intelektual. Oleh karena itu, posisi ini sering kali merupakan hasil dari perenungan bertahun-tahun, bukan sekadar kebingungan emosional yang lewat begitu saja.

3. Disebut tidak memiliki prinsip moral

Terdapat sebuah stigma sosial yang cukup kuat bahwa tanpa pegangan agama yang eksplisit, seseorang akan kehilangan kompas moralnya. Agnostisisme sering kali dituduh sebagai jalan hidup yang tidak memiliki aturan etika karena tidak bersandar pada teks suci tertentu. Pandangan ini tentu saja merupakan sebuah generalisasi yang kurang adil, karena moralitas manusia sebenarnya bisa bersumber dari banyak aspek lain seperti empati, rasionalitas, dan kontrak sosial.

Bagi mereka, berbuat baik adalah sebuah kewajiban sebagai sesama manusia, bukan semata-mata karena adanya imbalan atau hukuman di masa depan. Banyak individu agnostik yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan keadilan justru karena mereka percaya bahwa kehidupan saat inilah yang paling nyata dan harus diisi dengan kebaikan. Moralitas dalam pandangan ini sering kali bersifat otonom dan lahir dari kesadaran akan tanggung jawab terhadap sesama makhluk hidup.

Baca Juga:  Gotong Royong Cor Kubah Masjid, Bukti Kebersamaan

4. Dianggap membenci institusi agama

Sering kali masyarakat mengira bahwa seseorang yang memilih jalan agnostik pasti memiliki rasa benci atau antipati terhadap institusi agama. Anggapan ini biasanya muncul karena adanya gesekan pendapat dalam ruang publik. Padahal, banyak orang agnostik yang tetap menghargai peran agama dalam sejarah manusia, mengagumi keindahan arsitektur tempat ibadah, bahkan menikmati nilai-nilai budaya dan tradisi yang dilahirkan oleh agama.

Ketidakmampuan untuk meyakini doktrin tertentu tidak secara otomatis berubah menjadi kebencian. Banyak dari mereka yang justru melihat agama sebagai fenomena sosiologis yang menarik dan penting bagi stabilitas masyarakat tertentu. Mereka mungkin tidak mempraktikkan ritualnya secara teologis, namun tetap mampu bersikap hormat dan toleran terhadap hak setiap orang untuk beriman. Fokus mereka biasanya lebih kepada kebebasan berpikir daripada upaya menjatuhkan keyakinan orang lain.

5. Disangka tidak ber Tuhan sama sekali

Karena label “tidak tahu” yang mereka sandang, banyak yang menyimpulkan bahwa agnostik sama sekali tidak mempercayai adanya kekuatan yang lebih tinggi. Secara teknis, agnostisisme mencakup spektrum yang luas, termasuk mereka yang disebut sebagai “agnostik teis”. Kelompok ini mungkin merasa bahwa ada kekuatan besar di balik alam semesta ini, namun mereka mengakui bahwa mereka tidak bisa mendefinisikan atau menjelaskan kekuatan tersebut secara akurat.

Miskonsepsi ini sering menutup ruang bagi dialog spiritual yang lebih dalam. Sejatinya, seorang agnostik bisa saja memiliki rasa kagum yang luar biasa terhadap keteraturan kosmos yang menyerupai rasa religius, namun mereka menolak untuk memberi nama atau sifat manusiawi pada kekuatan tersebut. Bagi mereka, Tuhan mungkin adalah sebuah konsep yang terlalu besar untuk dikurung dalam definisi-definisi yang dibuat oleh manusia.

6. Dinilai sebagai pengikut tren modern

Di era informasi yang sangat terbuka seperti sekarang, posisi agnostik terkadang dianggap sebagai bagian dari gaya hidup urban atau tren intelektual yang populer di kalangan anak muda. Pandangan ini mengecilkan sejarah panjang agnostisisme yang sebenarnya sudah berakar sejak zaman Yunani kuno hingga pemikir-pemikir besar di abad ke-19 seperti Thomas Henry Huxley yang mempopulerkan istilah ini.

Baca Juga:  Semangat Sinergitas Warnai Persiapan Pujawali di Ampenan

Menjadi agnostik bukanlah tentang mengikuti apa yang sedang “keren” atau terlihat cerdas di media sosial. Sebaliknya, ini sering kali melibatkan proses pergulatan batin yang cukup sunyi dan mendalam. Dalam lingkungan masyarakat yang sangat religius, menyatakan diri sebagai agnostik justru bisa menjadi tantangan sosial yang besar, sehingga sulit untuk mengatakannya sebagai sebuah tren yang menyenangkan untuk diikuti tanpa alasan fundamental yang kuat.

7. Dianggap malas mempelajari teologi

Ada anggapan bahwa orang menjadi agnostik karena mereka malas membaca kitab suci atau enggan mempelajari ilmu ketuhanan. Kenyataannya, banyak orang memilih posisi agnostik justru setelah mereka melakukan perjalanan pencarian yang sangat panjang dan mendalam. Mereka sering kali adalah para pembaca yang tekun dan pengamat yang kritis terhadap berbagai tradisi keagamaan dan filosofi dunia.

Keputusan untuk tetap pada posisi “tidak tahu” sering kali lahir dari pemahaman yang mendalam bahwa setiap sistem teologi memiliki klaim-klaim yang sulit untuk diverifikasi secara objektif. Alih-alih malas, mereka justru merasa bahwa menghargai kompleksitas pertanyaan tentang Tuhan memerlukan kejujuran untuk mengakui batasan ilmu pengetahuan yang dimiliki saat ini. Bagi mereka, mengakui ketidaktahuan adalah sebuah bentuk penghormatan tertinggi terhadap kebenaran itu sendiri.

Memahami berbagai sisi dari agnostisisme membantu kita untuk menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menyikapi perbedaan. Di tengah dunia yang sering kali menuntut jawaban hitam atau putih, posisi ini mengingatkan kita bahwa ada area abu-abu yang luas di mana manusia tetap bisa hidup dengan penuh integritas dan kebaikan meskipun tanpa kepastian mutlak. Agnostisisme bukanlah sebuah ancaman bagi keyakinan orang lain, melainkan sebuah refleksi tentang keterbatasan kita sebagai manusia dalam memahami rahasia semesta yang begitu luas.