Dunia kesehatan mental sering kali menjadi ruang yang penuh dengan istilah-istilah yang akrab di telinga, namun sering kali disalahartikan dalam percakapan sehari-hari. Salah satu istilah yang paling sering muncul adalah OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder. Kita mungkin sering mendengar seseorang berseloroh bahwa mereka sedang kumat OCD hanya karena ingin menata meja kerja dengan sedikit lebih rapi atau merasa risi melihat pigura foto yang miring. Padahal, di balik label yang kerap dijadikan candaan tersebut, terdapat realitas yang jauh lebih kompleks dan sering kali melelahkan bagi mereka yang benar-benar menjalaninya.
Memahami OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder secara mendalam adalah langkah awal untuk membangun empati yang tulus bagi para penyandangnya. Secara umum, kondisi ini merupakan sebuah gangguan kesehatan mental yang melibatkan pola pikiran yang tidak diinginkan dan berulang (obsesi) yang kemudian mendorong seseorang untuk melakukan tindakan tertentu secara berulang-ulang (kompulsi). Tindakan tersebut dilakukan bukan karena keinginan atau hobi, melainkan sebagai upaya mendesak untuk meredakan kecemasan hebat yang ditimbulkan oleh pikiran-pikiran obsesif tersebut.
Berikut adalah beberapa poin mendalam yang akan mengupas tuntas berbagai miskonsepsi yang selama ini berkembang di masyarakat mengenai kondisi ini.
1. OCD hanya soal bersih-bersih
Salah satu anggapan yang paling melekat di masyarakat adalah bahwa OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder selalu berkaitan dengan kebersihan atau ketakutan terhadap kuman. Memang benar bahwa beberapa orang dengan kondisi ini memiliki fokus pada higienitas, namun spektrum gangguan ini jauh lebih luas dari sekadar mencuci tangan atau menyapu lantai. Obsesi bisa muncul dalam berbagai bentuk yang mungkin tidak terlihat secara fisik oleh orang luar, seperti kekhawatiran berlebih akan keselamatan anggota keluarga atau ketakutan melakukan kesalahan fatal di tempat kerja.
Fokus yang terlalu sempit pada aspek kebersihan sering kali membuat mereka yang memiliki gejala lain merasa terisolasi atau bahkan tidak menyadari bahwa mereka memerlukan bantuan profesional. Ada jenis obsesi yang berkaitan dengan pengecekan berulang, kebutuhan akan simetri, hingga pikiran-pikiran intrusif yang sangat mengganggu. Oleh karena itu, menyederhanakan kondisi ini hanya sebagai masalah kebersihan adalah sebuah kekeliruan yang menghambat pemahaman kita terhadap penderitaan yang sebenarnya mereka alami.
2. OCD sekadar perfeksionisme tinggi
Banyak orang mengira bahwa memiliki sifat perfeksionis adalah hal yang sama dengan mengidap OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder. Padahal, terdapat perbedaan mendasar antara mengejar kesempurnaan demi prestasi dengan melakukan sesuatu karena terpaksa oleh rasa cemas. Seorang perfeksionis biasanya merasa bangga atau mendapatkan kepuasan dari hasil kerjanya yang detail. Sebaliknya, seseorang dengan kondisi ini sering kali merasa tersiksa oleh tuntutan pikiran mereka sendiri yang mewajibkan segala sesuatu dilakukan dengan cara tertentu tanpa adanya rasa bangga.
Kompulsi yang dilakukan bukan bertujuan untuk mencapai kualitas terbaik, melainkan untuk menghentikan “badai” di dalam kepala mereka. Jika seorang perfeksionis bisa memilih untuk berhenti ketika merasa pekerjaannya sudah cukup baik, seseorang dengan gangguan ini sering kali merasa tidak punya pilihan lain. Mereka terjebak dalam lingkaran ritual yang menghabiskan waktu dan energi, yang pada akhirnya justru sering menghambat produktivitas alih-alih meningkatkannya.
3. Pengidap OCD pasti rapi
Mitos bahwa semua orang dengan OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder adalah sosok yang sangat rapi dan terorganisir adalah pandangan yang sangat umum namun tidak akurat. Realitasnya, kondisi ini bisa bermanifestasi dalam bentuk yang justru terlihat berantakan. Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki obsesi untuk tidak membuang barang tertentu karena takut akan terjadi bencana jika barang itu hilang. Hal ini bisa menyebabkan penumpukan barang yang luar biasa di dalam rumah, yang secara visual sangat jauh dari kesan rapi.
Kerapian dalam konteks gangguan ini biasanya terbatas pada area tertentu yang menjadi fokus obsesi mereka, sementara aspek kehidupan lainnya mungkin tidak terjamah sama sekali. Seseorang bisa saja sangat teliti dalam menata susunan buku di raknya, namun membiarkan dapur atau ruang tamu dalam keadaan kacau. Ini menunjukkan bahwa perilaku mereka tidak didorong oleh kecintaan pada keteraturan, melainkan oleh logika internal yang sangat spesifik dan berkaitan dengan rasa takut yang mereka rasakan.
4. OCD adalah pilihan perilaku
Sering kali muncul anggapan bahwa pengidap OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder seharusnya bisa berhenti melakukan ritual mereka jika mereka memiliki tekad yang kuat. Pandangan ini sangat menyakitkan karena mengabaikan sisi biologis dan neurologis dari gangguan tersebut. Melakukan kompulsi bukanlah sebuah pilihan gaya hidup atau hobi yang dilakukan dengan sengaja. Ini adalah respon otomatis terhadap kecemasan yang terasa sangat nyata, seolah-olah nyawa mereka atau orang lain sedang dalam bahaya jika ritual tersebut dilewatkan.
Mengatakan bahwa ini adalah pilihan perilaku sama saja dengan mengabaikan perjuangan mental yang luar biasa berat di dalam diri mereka. Sebagian besar orang yang hidup dengan kondisi ini sebenarnya menyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka tidak rasional, namun mereka merasa tidak berdaya untuk melawannya tanpa bantuan profesional. Dukungan sosial yang suportif jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar teguran untuk “berhenti bersikap aneh,” karena paksaan untuk berhenti tanpa penanganan yang tepat justru bisa meningkatkan level stres secara drastis.
5. OCD bisa sembuh instan
Dalam budaya yang serba cepat, kita sering mengharapkan solusi instan untuk segala masalah, termasuk kesehatan mental. Namun, pemulihan dari OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder adalah sebuah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Tidak ada obat ajaib atau terapi satu malam yang bisa langsung menghilangkan gejala sepenuhnya. Pemulihan biasanya melibatkan kombinasi terapi perilaku kognitif, pengelolaan stres, dan terkadang bantuan medis yang diawasi oleh profesional di bidangnya.
Istilah “sembuh” dalam konteks ini juga sering kali lebih tepat digambarkan sebagai pengelolaan gejala yang efektif. Banyak orang belajar untuk hidup berdampingan dengan kondisi ini dengan cara mengenali pemicunya dan memiliki strategi untuk menghadapinya. Fokusnya bukan pada hilangnya pikiran obsesif secara total, melainkan pada bagaimana seseorang bisa berfungsi kembali dengan baik dan tidak lagi dikendalikan oleh kompulsi tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.
6. Obsesi sama dengan hobi
Ada perbedaan jurang yang sangat dalam antara memiliki obsesi dalam konteks kesehatan mental dengan memiliki hobi atau minat yang mendalam. Saat seseorang sangat menyukai otomotif atau musik, mereka melakukan kegiatan tersebut dengan rasa senang dan antusias. Namun, obsesi dalam OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder bersifat intrusif, tidak diinginkan, dan sering kali bertentangan dengan nilai-nilai pribadi penderitanya. Pikiran tersebut datang tanpa diundang dan membawa perasaan negatif seperti rasa bersalah atau ketakutan.
Analogi yang sering digunakan adalah seperti radio yang tidak bisa dimatikan dan terus memutar lagu yang sangat mengganggu dengan volume tinggi. Pengidapnya tidak menikmati proses tersebut; mereka justru merasa terbebani. Memahami perbedaan ini sangat penting agar kita tidak meremehkan apa yang mereka rasakan. Hobi memberikan energi, sedangkan obsesi dalam gangguan ini justru menguras seluruh energi mental dan fisik penderitanya hingga mereka merasa kelelahan luar biasa.
7. Semua orang sedikit OCD
Mungkin ini adalah kalimat yang paling sering diucapkan oleh masyarakat umum, namun sebenarnya cukup meremehkan perjuangan para penyandangnya. Mengatakan bahwa “semua orang sedikit OCD” karena kita suka meja yang bersih adalah bentuk penyederhanaan yang keliru. Setiap orang memang bisa memiliki kecenderungan untuk rapi atau cemas, namun hal tersebut tidak memenuhi kriteria klinis dari sebuah gangguan. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat penderitaan (distress) dan gangguan pada fungsi kehidupan sehari-hari.
Seseorang didiagnosis mengidap OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder ketika pikiran dan perilaku tersebut memakan waktu yang sangat banyak, minimal satu jam setiap harinya, dan menyebabkan hambatan serius dalam bekerja, bersosialisasi, atau beristirahat. Menggunakan istilah ini secara sembarangan untuk perilaku normal hanya akan memperkuat stigma dan membuat mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan merasa suara mereka tidak didengar. Menghargai istilah medis ini berarti menghargai pengalaman hidup mereka yang benar-benar berjuang melaluinya setiap hari.
Memahami realitas di balik OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder membantu kita untuk menjadi lebih bijak dalam berkomunikasi dan bersikap. Dengan meluruskan berbagai kesalahpahaman populer ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan penuh empati bagi siapa pun yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya. Ingatlah bahwa di balik setiap ritual yang tampak tidak masuk akal, ada individu yang sedang berusaha keras untuk menemukan ketenangan di tengah badai kecemasan.












