Cerita Penjual Pakaian Rombeng di Pasar Karang Sukun Mataram, Dapat Omzet 3 Juta per Hari

  • Bagikan

MATARAM- Riuh terdengar sejumlah orang sedang memilih berbagai macam pakaian bekas atau Thrifting yang di jual di lapak Pasar Karang Sukun, Kota Mataram, Sabtu (15/4/2023)

Terlihat di sudut-sudut lapak, para pembeli terlihat mencoba langsung pakaian yang dipilihnya, kemudian terjadi tawar menawar harga antara pembeli dan pedagang.

Banner Iklan niagahoster

Lokasinya yang berada di jantung Kota Mataram membuat aksesnya amat mudah dikunjungi. Pasar baju bekas Karang Sukun ini cukup luas setidaknya sekitar 50 lapak penjual berdagang di tempat itu.

Pasar Karang Sukun merupakan, salah satu sentral penjualan baju bekas di Kota Mataram, setiap hari, lokasi ini ramai dikunjungi pembelipembeli, baik dari masyarakat dalam kota maupun luar kota sendiri

Kehadiran pakaian bekas atau yang lazim disebut baju rombeng (rombengan) mempunyai daya tarik tersendiri di masyarakat Lombok. Bahkan, tak sedikit masyarakat yang memang menjadikan baju bekas sebagai produk primer dalam memilih pakaian.

Selain harganya yang miring, baju bekas juga tak jarang dicari lantaran menawarkan produk-produk pakaian dengan merek ternama dari luar negeri.

Salah satu penjual Thrifting di Pasar Karang Sukun Sanusi (34) mengungkapkan, dirinya telah menjalankan usaha ini puluhan tahun, melanjutkan usaha orang tua dirinya.

“Udah lama saya jualan begini, lebih 10 tahun, karena dari usaha orang tua dulu saya yang melanjutkan,” kata Ocid sapaan akrab Sanusi.

Sanusi menyebutkan, barang berkas yang dijualnya dipesan dari Surabaya dan Bali dengan membeli permen Bal atau per karung.

“Kita ambil dari Surabaya dan Bali, tapi kebanyakan dari Surabaya kita pesan lewat online, nanti diantar,” kata Ocid.

Ocid menyebutkan usaha baju rombeng ini sangat menjanjikan, per hari biasanya mendapatkan 1 juta hingga 3 juta pada hari-hari tertentu.

“Alhamdulillah ada untuk menafkahi keluarga, kadang dapat satu juta, kalau lagie rame, biasanya hari Jumt rame, dapat kita 3 juta,” kata Ocid.

Dirinya berharap pemerintah tidak menutup usahanya yang telat digelutinya selama lebih 10 tahun, mengingat hal itu merupakan usaha satu-satunya untuk menafkahi keluarga.

“Disini ada banyak pedagang kayak saya ini menggantungkan hidup dari usaha jual rombeng. Nanti kalau ditutup bagaimana nasip kita,” ungkap Ocid.

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *