Dorong Wisata Budaya, Poltekpar Lombok Minta Ada Atraksi Budaya di Sade Event Balapan WSBK

LOMBOK TENGAH- Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Nusa Tenggara Barat mendorong pariwisata berbasis kebudayaan di tonjolkan pada pergelaran World Superbike (WSBK) pada November mendatang.

Pudir I Poltekpar Lombok Amirosa Ria Satiadji mengungkapkan, bahwa Lombok tidak hanya memiliki destinasi wisata alam yang indah seperti Gili, Kuta Mandalika, namun juga memiliki kekuatan kebudayaan yang harus juga dipertontonkan ke pada wisatawan.

“Jadi Lombok ini tidak hanya wisata alam yang dimiliki, namun juga wisata budaya culture, yang menarik untuk dikunjungi wisatawan seperti melihat Adat Karang Bajo Desa Bayan, Lombok Utara, Desa Adat Sade di Lombok Tengah,” kata Amirosa usai membuka kegiatan Famous 2022, Selasa (27/2022)

Diterangkan Amirosa bahwa, pihaknya saat ini tengah menjalin komunikasi dengan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) selaku pengelola Sirkuit Mandalika, agar event wisata  kebudayaan dapat ditampilkan dalam gelaran WSBK.

“Ini masih dalam tahap pembahasan  bersama MGPA untuk menghadirkan aktraksi kebudayaan sebagai side event di WSBK maupun MotoGP mendatang,” kata Amirosa.

Diterangkan Amirosa, bahwa soal teknis konsep masih sedang dibahas, apakah event aktraksi kebudayaan dapat dihadirkan di dalam venue atau di luar venue Sirkuit Mandalika.

“Misalkan nanti ada Presean, kemudian tenun, apakah nantinya bisa di dalam Sirkuit atau di luar ini yang masih kita bahas,” kata Amirosa.

Sebagai pendidikan vokasi, disampaikan Amirosa, bahwa para mahasiswanya saat ini tengah melakukan pengembangan pendidikan pariwisata  ke arah bidang kebudayaan, seperti melihat potensi wisata budaya ritual Maulid adat Karang Bajo Bayan.

“Sebagai wujud dari bentuk mewujudkan konsep administrasi, di mana  program  mahasiswa kami mengembangkan pariwisata budaya dengan mempromosikan bersama travel agent,” kata Amirosa.

Diterangkan Amirosa, bahwa wisata kebudayaan tersendiri memiliki ciri khas tertentu, di mana masyarakat mempunyai ritual berdasarkan waktu dan tempat tertentu.

“Jadi wisata budaya ini tidak setiap hari kita jumpai, tapi ada waktu khsusus kita menemukan pengalaman mengikuti upacara kebudayaan. Kalau telat ya harus ulang tahun depan lagi,” kata Amirosa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *